Pandemi Gini Ga Mudik? Ga Asik Anti :v

Yang ga mudik dan ga silaturahim siap-siap dapat label, kacang lupa kulit! Menolak Ingat Covid-19 😀

Clikbait padahal mau disclaimer dulu kalau aku ga mudik tahun ini setelah beberapa tahun yang lalu terakhir ga mudik. Biasanya, mudik adalah kegiatan yang sudah “dibiasakan” bagi perantau seperti orang tua aku, dan aku juga. Merantaulah maka kau akan tahu gimana rasanya ga bisa mudik karena kondisi global bukan personal. Lebih sakit.

Serba salah emang, mau mudik nanti disuruh belok kanan sama polisi yang lagi kerja ngurusin yang pada bandel tapi juga kalau ga mudik, lebaran jadi sempitan karena jangkauan keluarga ga seluas anak rantau. Complicated yegak, se-complicated mengingat MANTAN. Wqwq. Di-bold biar keliatan lebih terang aja gitu dan ga susah nyarinya untuk bahan sindiran. Aku udah bantuin loh. Bentuk terima kasih karena udah naikin statistik 😀

Baca lebih lanjut
Gambar

My First Urban Jungle

Aku sangat suka belajar psikologi. Terutama yang berkaitan dengan ego atau diri. Karena aku termasuk manusia yang sangat susah memahami diri sendiri. Wah, tapi nau’dzubillah kalau saking ga pahamnya sama diri sendiri bisa-bisa aku susah muhasabah. Oleh karena itu, aku mau terus belajar memahami diri dan orang lain. Kadang ego itu besar sekali sampai-sampai lupa diri.

Nah berkaitan dengan psikologi, ada satu topik yang menarik tapi emang masih belum ada kejelasan yang pasti mengenai valid atau tidaknya. Kita bisa baca di sini. Yap, kecerdasan majemuk. Selama ini hanya mengira-ngira aja tanpa ada instrumen penilaian yang kredibel untuk menentukan seorang anak memiliki kecerdasan majemuk seperti apa. Kalau menurut feeling-ku, karena aku INFP-T, aku merasa ketertarikanku sangat kuat di bidang naturalis. Iya, aku suka alam, suka kabut, suka bau tanah, suka ngumpulin buah pohon pinus, suka meluk pohon–tiang juga boleh, suka mencium daun segar, suka bicara sama tanaman di rumah, suka memanfaatkan daun kering yang jatuh biar jadi hastakarya, dan lain-lain.

Baca lebih lanjut

Malam “Penangguhan”

Selamat kencan wahai yang sedang berpasangan. Selamat menahan rindu wahai manusia susah lupain mantan. Dan, selamat membusuk di pojokan kamar wahai Jomblo. Maaf, aku lagi ga di pojokan kamar sekarang yey. Aku bukan jomblo, aku adalah seorang yang sedang ingin menjadi independen. Hilih ngomong apa sih.

Tapi, aku memang lagi ada di luar rumah. Tepatnya di teras rumah. Malem minggu ini aku tidak bisa santai secara mental 🙂 wah, serasa ada batu purba di dalam dada, sesak. Aku coba latihan pernafasan supaya tidak terlalu tertekan. Maksudku, semua manusia menikmati malam minggunya. Tolong, jangan gua aja yang gila karena ga bisa menikmati malam minggu ini.

Aku hirup dalam-dalam. Aku tahan nafasku lebih lama dari biasanya ku berlatih ini. Lalu, aku hembuskan secara perlahan. Beban yang berat di dalam dada itu serasa ikut memecah dan terbawa arah hembusan nafasku keluar tubuh. Aku mulai mendingan. Dan, lanjut menulis.

Baca lebih lanjut

Dua Sisi Koin WFH

Baik. Oh, tolonglah. Tanpa disadari aku akhir-akhir ini sering banget ngomong satu kata itu, terutama untuk mengakhiri percakapan dalam suatu chatroom yang sifatnya semiformal sampai formal. But wait, rasanya aku semakin kaku saja semakin menua.

Iya, tahun ini aku akan menjadi manusia berusia 24 tahun dan masih asik sama dirinya sendiri, lebih kepada menyelesaikan apa yang belum selesai dari diri sendiri. Salah satunya belajar menerima keadaan dari lampau hingga hari ini. Sisi yang sebenernya masih aku tolak mentah-mentah, padahal orang normal bisa menerima masa lalu mereka. I’m literally normal though, maybe just little weird. Hahaha. Aku suka banget labeling diriku sebagai seorang weirdo, bukan dalam konotasi negatif ya. Aku lebih kepada seorang gadis yang tertatih menaiki tangga menuju dewasa muda sehingga membuatnya menjadi agak silly, sama kaya weird.

Baca lebih lanjut