Pengulangan

Hai, sudah lama sekali ya.

Apa kamu baik-baik saja, Nanaas? Maafkan aku yang sudah lama tak berkunjung. Walaupun aku hampir 3 bulan lamanya tak menengok, aku sering memikirkan bahwa aku ingin kembali bercerita dan menikmati sisi lainku denganmu. Aku harap kamu selalu bahagia, Nanaas.

Nanaas, kamu tau kan aku sudah jarang berkunjung karena aku punya kegiatan berulang. Tetapi aku tak ingin menjadikannya alasan, maaf mungkin aku yang terlalu malas menuangkan isi pikiranku ke dalam tulisan di sini. Aku terlalu sibuk menikmati keramaian isi kepalaku. Hingga keramaian itu membuatku lelah dengan sendirinya.

Nanaas, seperti apa menjadi orang dewasa menurutmu? Sampai saat ini aku belum tau secara pasti makna dari kata itu. Aku tidak bisa memfrasakan kalimat yang sesuai dengan pribadiku tentang menjadi dewasa. Tapi, apa salah satunya menjadi dewasa berarti menjadi biasa dalam sebuah pengulangan?

Kamu tau kan jika aku adalah orang yang mudah bosan tetapi jika dihadapkan tantangan mudah menciut sekecil-kecilnya. Membingungkan menjadi seorang paradoks memang. Dari diri aku sendiri, aku sudah sangat bosan menjalani pengulangan ini. Tetapi, aku bisa bertahan hidup karenanya. Bertolak belakang sekali, bukan?

Nanaas, sebenarnya aku mulai terbiasa dengan pengulangan ini. Aku menikmati masa produktifku yang tak seberapa dibanding yang lain. Tetapi aku masih bisa produktif dalam skalaku. Nanaas, kenapa aku selalu membandingkan diriku dengan yang lain? Tolong beritahu aku jika itu salah dan aku punya parameterku sendiri. Ingatkan aku.

Nanaas, dalam beberapa bulan terakhir akulah yang menjadi “maknae” dalam urusan pernikahan di lingkungan pengulanganku menjadi orang dewasa. Iya, tempat dimana aku bisa bertahan hidup karena aku mendapat penghasilan darinya. Iya, aku yang sedang berjuang sendiri untuk pernikahan yang aku impikan. Maksudnya, hanya aku, perempuan satu-satunya, yang belum menikah. Tolonglah aku malas membahasnya walaupun aku ingin bertemu orang yang tepat. Salah satu isi keramaian kepalaku tertuang sudah.

Nanaas, aku tak masalah dengan kesendirianku sebagai candaan mereka. Aku anggap itu sebagai doa supaya aku disegerakan. Sehingga aku sama sekali tak terbawa situasi hingga moodku kacau karenanya. Sebab aku tau, bukan ranahku tentang siapa, kapan dia datang untuk menghapus gelar “sendiri”ku.

Aku mulai khawatir tentang itu sejak tadi malam akan tidur, Ahad malam Senin. Tanpa aba-aba yang aku tahu, dia sudah melewati garis start duluan. Iya, seorang manusia bergender perempuan dengan hati yang baik dan sederhana. Serta yang selalu kujuluki, lucky gurl, karena emang dia itu beruntung banget menurutku. Always.

Sahabatku, aku anggap dia begitu sih, had engagement. Entah kenapa, muncul dualismeku. Tetapi memang lebih banyak sedihnya. Bukan sedih karena dia lebih cepat bertemu, tetapi sedih karena kita akan berbeda circle lagi. Aku tidak bisa seenak jidat tetiba main ke rumahnya jika aku ingin kabur dari pengulanganku, karena dia sudah bertambah tanggung jawabnya. Tidak hanya mengurusi temannya yang satu ini, yang belum “mentas” sampai setua ini.

Itulah kenapa tiba-tiba aku merasa kesepian.

Sisi lainnya, aku ikut senang dan bahagia jika teman dekatku sudah mulai menapaki satu tangga lebih tinggi dalam mendapatkan pahala di kehidupan saat ini yaitu pahala telah menyempurnakan separuh agamanya dan mendulang ladang kebaikan selama menjadi istri. Sebuah pencapaian yang sangat hebat menurutku. Karena menjadi multitasking tidak mudah walaupun perempuan diberikan kemampuan untuk mengerjakan banyak hal dalam satu waktu secara bersamaan.

Barakallah temen deketku sejak SMP. Semoga apa yang kamu lakukan selalu diberkahi oleh Allah swt. Semakin sukses dan beruntung Nna~ Aamiin.

Kembali ke topik pengulangan setelah hati menjadi cemas menunggu giliran untuk bisa “naik tangga” gara-gara temen deket sudah naik duluan.

Ternyata tanpa disadari pengulangan selama pandemi ini sangat merubah dan merusak waktu kehidupanku (Atau aku yang tidak bisa mengatur diri sendiri). Aku selalu tidur di atas jam 2 pagi. Sudah macam trainee mau debut, latihan terus sampai pagi. Lalu datanglah pencerahan dan semangat dari ibuku yang meminta untuk merubah jam produktifku walaupun itu sulit bagiku yang mudah terdistraksi oleh suara-suara kecil ketika kehidupan sedang bersamaan menjalani rutinitas (re: pagi sampai sore hari).

Akibat dari jam produktifku sejenis kelelawar membuat kegiatan sunnah sepertiga malam tidak maksimal. Aku sedih tetapi mau bagimana lagi. Lama-kelamaan pengulangan semacam ini yang tidak sehat. Memang aku seakan overworking dan totalitas, kata ibuk, tetapi aku sudah dzalim sama diri sendiri. Aku mengabaikan hak diri ini untuk mendapatkan waktu tidur malam yang esensial.

Ada benarnya peringatan ibuk :’ aku tidak tau bagaimana jadinya jika ibuk tidak mengingatkan aku. Sekarang jam produktifku mulai kuubah perlahan Waktu pagi hari aku coba untuk produktif yang tidak membutuhkan konsentrasi tinggi sehingga malam harinya aku bisa melanjutkan aktivitas yang membutuhkan konsentrasi tingkat dinggi. Akibatnya, aku tidak lembur lagi~

Namun, ada kalanya pagi hari tidak membuatku bersemangat melakukan pengulangan itu. Aku ganti dengan tidur malam lebih cepat dan bangun lebih awal untuk berkarya. Sehingga hubungan vertikalku baik-baik saja.

Kuatkan aku, karena pandemi ini datangnya dari-Mu maka aku yakin makhluk ciptaan-Mu semakin dikuatkan untuk bertahan hidup dengan perubahan yang sangat bertolak belakang ini.

Fin.

Gambar

Arjunaku~ (Part 2)

Lagi pandemi gini, raga serasa dipingit di rumah tapi ga dinikah-nikahin. Iya, itu namanya karantina mandiri, bukan karena ada calon suami. Hiyahiyahiya. Raga tetep di dalam rumah tapi pikiran berkelana keluar kemana-mana, Overthinking. Apa aja yang dipikirin termasuk di dalamnya tentang diri, teman, pekerjaan, pernikahan, dan semua-muanya. Yang paling banyak dapat perhatian untuk dipikirin adalah diriku sendiri. What’s wrong gitu.

Baca lebih lanjut

Pandemi Gini Ga Mudik? “Anti” Ga Asik :v

Yang ga mudik dan ga silaturahim siap-siap dapat label, kacang lupa kulit! Menolak Ingat Covid-19 😀

Clikbait padahal mau disclaimer dulu kalau aku ga mudik tahun ini setelah beberapa tahun yang lalu terakhir ga mudik. Biasanya, mudik adalah kegiatan yang sudah “dibiasakan” bagi perantau seperti orang tua aku, dan aku juga. Merantaulah maka kau akan tahu gimana rasanya ga bisa mudik karena kondisi global bukan personal. Lebih sakit.

Serba salah emang, mau mudik nanti disuruh belok kanan sama polisi yang lagi kerja ngurusin yang pada bandel tapi juga kalau ga mudik, lebaran jadi sempitan karena jangkauan keluarga ga seluas anak rantau. Complicated yegak, se-complicated mengingat MANTAN. Wqwq. Di-bold biar keliatan lebih terang aja gitu dan ga susah nyarinya untuk bahan sindiran. Aku udah bantuin loh. Bentuk terima kasih karena udah naikin statistik 😀

Baca lebih lanjut
Gambar

My First Urban Jungle

Aku sangat suka belajar psikologi. Terutama yang berkaitan dengan ego atau diri. Karena aku termasuk manusia yang sangat susah memahami diri sendiri. Wah, tapi nau’dzubillah kalau saking ga pahamnya sama diri sendiri bisa-bisa aku susah muhasabah. Oleh karena itu, aku mau terus belajar memahami diri dan orang lain. Kadang ego itu besar sekali sampai-sampai lupa diri.

Nah berkaitan dengan psikologi, ada satu topik yang menarik tapi emang masih belum ada kejelasan yang pasti mengenai valid atau tidaknya. Kita bisa baca di sini. Yap, kecerdasan majemuk. Selama ini hanya mengira-ngira aja tanpa ada instrumen penilaian yang kredibel untuk menentukan seorang anak memiliki kecerdasan majemuk seperti apa. Kalau menurut feeling-ku, karena aku INFP-T, aku merasa ketertarikanku sangat kuat di bidang naturalis. Iya, aku suka alam, suka kabut, suka bau tanah, suka ngumpulin buah pohon pinus, suka meluk pohon–tiang juga boleh, suka mencium daun segar, suka bicara sama tanaman di rumah, suka memanfaatkan daun kering yang jatuh biar jadi hastakarya, dan lain-lain.

Baca lebih lanjut